Amygdala

Gallery

Amygdala, yang berbentuk seperti biji almond, memiliki fungsi emosional. Amygdala berhubungan erat dengan penentuan keputusan via kemampuan otak emosi. Bagian ini dikaitkan dengan perasaan, berhati-hati, persepsi ketakutan, dan kemampuan untuk berempati.

 

Pada manusia amygdala membantu untuk memahami ekspresi dari orang yang dihadapinya. Misalnya untuk mengenali apakah sesuatu atau situasi yang dihadapinya itu berbahaya atau tidak, apakah sesuatu itu penting bagi kelangsungan hidup atau tidak, misalnya apakah makanan ini boleh dimakan, apakah orang ini tepat untuk dijadikan pasangan, apakah situasi ini bahaya bagi kita. “Amygdala yang berfungsi penuh tampaknya membuat kita lebih berhati-hati. Kita sudah mengetahui bahwa amyglada terlibat di dalam proses kekhawatiran, dan itu tampaknya juga membuat kita ‘takut’ menghadapi risiko,” ungkap seorang peneliti, Ralph Adolphs.

 

Kerusakan pada amygdala akan membuat individu tidak mampu berempati dengan orang lain. Karena dalam berfungsi amygdala banyak dipengaruhi oleh persepsi, maka amygdala bisa keliru apabila organisme bisa menangkap tanda-tanda yang keliru dalam mempersepsi, dan ini dapat menyebabkannya mereka menampilkan perilaku yang tidak sesuai (King, 2011). Akhirnya manusia tidak mampu menangkap  emosi dari setiap peristiwa dan timbul rasa takut dan kecemasan. Kondisi ini kadang-kadang disebut sebagai ‘buta afektif’ (Goleman, 1996). Orang yang mengalami kerusakan pada amygdala atau yang dicabut amygdalanya akan sulit membaca ekspresi orang lain maupun mengenali bahasa tubuh. Tentunya kesulitannya ini bisa membawa akibat dalam hubungan antar manusia. Sulit baginya untuk memahami ekspresi dan bahasa tubuh dari orang yang dihadapinya. Kemampuan membaca ekspresi pembicaralah yang dapat membantu kita memahami maksud dari apa yang disampaikan oleh pembicara sebenarnya, apakah ia bersungguh-sungguh atau sedang bercanda atau bahkan sedang menyindir kita.  Bahkan  dalam bukunya  Emotional Intelligence, why it matters more than IQ, Daniel Goleman (1996) menceriterakan bagaimana seorang pemuda yang diangkat amygdalanya (untuk mengendalikan kejang-kejang yang dialaminya) walaupun masih memiliki kemampuan berbicara, menjadi sama sekali tidak tertarik pada orang lain, lebih suka memisahkan diri dari orang lain. Selain itu, ketika amygdala ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seseorang cenderung berani mengambil risiko sangat besar. Studi yang dilaporkan dalam the Proceedings of the National Academy of Science ini membantu menjelaskan mengapa ada sebagian orang yang berani mengambil risiko dan ada yang tidak. Jika seseorang tidak punya rasa takut, mungkin bagian amygdala dalam otaknya mengalami kerusakan yang mungkin disebabkan oleh faktor genetik atau DNA.

 

 

 

Referensi :

www.detik.com

http://www.scholarpedia.org/article/Amygdala

Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi A Buku Ajar 2, Evita Singgih

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s